” Tuhan berpihak kepada siapa ? “.

KATA ” Demi Kebenaran” sangat populer dalam minggu ini. Dua kubu pansus DPR merasa sama-sama mengklaim bersikap demi kebenaran. Ukuran kebenarannya juga memakai logika dan hati. Bahkan kayaknya mereka sama-sama meneriakkan takbir Allah Akbar.
Betapa kebenaran menjadi rebutan.

Tuhan mungkin bingung mau berpihak kepada siapa melihat pola tingkah anak manusia itu. Dan kayaknya kalau diperdebatkan dengan pendekatan ilmiah, filosofis, ataupun dialektika politik dan budaya, pasti catatan inii bisa menjadi panjang dan akhirnya orang males membaca. Maka, saya kemudian menuliskan kisah sederhana yang “serupa” tapi tidak sama soal pemihakan Tuhan pada kebenaran dan kesengsaraan. Ini agak relevan dengan sikap Demokrat kalau sudah terdesak pasti “ayat” yang dikeluarkan adalah partai yang menderita didholimi dan disayang Tuhan. Budiono dan Sri Mulyani juga merasa didholimi dan disayang Tuhan. Sementara para pejuang DPR yang pilih opsi C merasa Tuhan berpihak pada mereka

Inilah cerita yang berbeda tapi senafas.
Dalam sebulan ini, seorang pimpinan rumah sakit, sering datang ke kantor saya. Mereka tinggal di sebuah kota di luar Jawa. Dia mengeluh karena tidak bisa menggaji karyawannya selama 4 bulan. Kini karyawannya males kerja dan terus demo dan kehidupan rumah sakit jadi lesu.Kondisi ini semakin parah karena bapak ini tidak ada dana cash yang bisa menutupi.

“Lantas bapak ke Jakarta mau apa,?”tanya saya.
“Ya tolonglah saya pak, agar DPP organisasi buruh yang ada di Jakarta supaya meredam karyawan saya,” katanya.
“Insya Allah kalau itu bisa. Tapi paling hanya menunda pak. bukan menghentikan.” jawab seorang kawan yang ikut menerima tamu.

Maka langkah membantu kawan ini ternyata berhasil. Atas upaya negosiasi seorang kawan yang memang pengurus organisasi buruh tersebut. Tapi minggu berikutnya, dirut RS ini datang lagi.

“Tolonglah pak saya dicarikan pinjaman Rp 400 juta,”paparnya.
“Maksudnya pak ?”
“Ya untuk membayar karyawan saya itu pak. Atau siapa yang mau beli tanah saya yang di Jakarta.”
“Saya usahakan pak, ” jawab seorang kawan saya memang bagian keuangan.

Singkat cerita, setelah bergaul sebulan, kita baru tahu bahwa pemilik RS ini ternyata tipe orang yang gak mau berkorban, Ia rela tidak membayar karyawannya 4 bulan, tapi mobil dan rumahnya masih mewah. Bahkan tanahnya yang di Jakarta sudah ditawar orang juga gak dilepas karena harganya dianggap kurang. Pokoknya ia tidak mau rugi sama sekali.

Maka pagi itu ia datang lagi ke kantor saya. Kali ini ia mengeluh lagi bagaimana cari solusi karena besok adalah deadline membayar karyawannya. Setelah diskusi panjang, lagi-lagi bapak ini tidak mau berkorban sedikitpun demi karyawannya. Malahan dia menunjukkan SMS seorang ustadz padanya, bahwa dia disuruh bersabar karena orang menderita seperti dia disayang oleh Tuhan.

Entah kenapa saya tiba-tiba agak marah pada tamu ini.
“Maaf pak, kayaknya Tuhan sedang tidak berpihak pada bapak. Justru Tuhan berpihak pada karyawan bapak yang sudah 4 bulan tidak bapak bayar. Bapak masih bisa tidur di hotel, tapi mereka makan saja rasanya susah. Barangkali mereka sudah terlilit hutang dengan rentenir, karena tidak mendapat gaji 4 bulan itu berat pak,”tegas saya.

“Tapi pak ustadz bilang ………”
“Ustadz yang mengirim sms bapak itu tidak paham, bahwa ada pihak yang lebih sengsara. Yakni karyawan bapak, saya ikut merasakan penderitaan mereka,”jawab saya.

PERTEMUAN siang itu akhirnya berlangsung agak kaku. Dan sampai hari ini belum datang lagi. Mungkin sudah selesai masalahnya, atau entah bagaimana.

KEBENARAN, Kesengsaraan memang sering dijadikan komoditi. Tidak saja pada pengusaha nakal, tetapi juga pada golongan orang-orang salah yang sudah terdesak.

Semoga bermanfaat, salam energi positif

Jakarta, 3 Maret 2010

Yusron Aminulloh

Iklan

2 Tanggapan

  1. Tragis ironis memang. Membuat hati jd berontak melihat permainan yang banyak ketimpangan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: