Pernakah kita renungkan

Pernakah kita renungkan ? .

Bahwa sangsi Hukum bagi wong cilik yang mayoritas adalah orang2 dari kalangan ekonomi lemah dan tidak mengenal bangku pendidikan serta mendapatkan warisan kemiskinan dari orang – orang tua mereka dibandingkan sangsi hukum buat beliau2 yang berpendidikan dari kalangan orang terdidik yang ekonominya sudah mapan serta mengerti hukum dan aturan2nya ?.

Perkenalkan , saya berpendidikan sangat rendah hanya sampai di bangku SEKOLAH DASAR dan tidak mengerti tentang politik , hukum apalagi ketata negaraan . Saya mencoba menulis ini karena dari berita masalah hukum yang saya dengar dan yang saya baca dari media sangat membingungkan serta mengusik nurani orang bodoh ini yang barangkali suatu saat bisa saja terkena masalah hukum , mudah2an nggak la yao….. ” yang benar dipenjara yang salah tertawa ” ( mengutip syair lagu bang H. Oma Irama ) benar2 masih berlaku dinegara tercinta ini , contoh kecil adalah kasus Pak Bibit dan Pak Chandra dari KPK yang sangat jelas bahwa hukum di Indonesia masih bisa dibelokkan dan di bolak balik oleh oknum Penegak Hukum negeri ini .( mohon maaf bagi Bapak / Ibu Jaksa atau para penegak hukum lainnya yang masih konsisten untuk menegakkan hukum di Indonesia ini )

Sebuah pertanyaan dalam benak saya .
Apakah perlakuan hukum terhadap wong cilik akan berbeda dengan para konglomerat atau pejabat ? itulah pertanyaan yang ada dibenak saya sebagai orang yang tak mengerti apa2 tentang hukum . Satu contoh kasus di Blitar dimana kakek Sakidi ( 75 ) yang sudah renta dan sakit2an harus mendekam di bui gara2 menebang kayu mindi dengan diameter 3 cm yang tidak mungkin bisa diolah lagi sebagai bahan bangunan . Kami mengerti bahwa di Negeri ini ada aturan2 hukum yang berlaku dan harus ditaati oleh masyarakat dan sangat jelas peraturannya , Namun dalam kasus ini mustinya ada pertimbangan yang lebih manusiawi dari penegak hukum di negeri ini dimana dikatakan sebagai shock therapy bagi pelakunya dan bagi calon pelaku lainnya . Dalam hal ini si penebang kayu tersebut yang menebang kayu di hutan hanya untuk digunakan sebagai kayu bakar, apakah sanksi hukumnya ?. Coba dibandingkan sanksi hukum antara penebang pohon yang hanya menebang tiga batang dengan diameter 3 cm untuk digunakan sebagai kayu bakar dibandingkan dengan para perusak hutan yang bermodal besar yang jelas2 menebang hutan berhetar hektar untuk mengeruk keuntungan sebesar-besarnya bagi kekayaan diri sendiri dan tak perduli akan rusaknya hutan dengan segala akibat yang ditimbulkan . Dalam hal ini Jaksa Penuntut Umum dituntut rasa keadilannya dan harus bisa mempertimbangkan penggunaan kayu tersebut untuk apa , digunakan sendiri atau untuk diperjual belikan , serta pertimbangan tentang keadaan ekonomi si penebang , pendidikan serta fisik dari tersangka .
Jika penebang kayu dalam hutan yang dikelola oleh pemerintah / Departemen Kehutanan digunakan sebagai pekerjaan yang menghasilkan uang yang berlimpah , maka orang itulah yang harus ditindak secara tegas dan dihukum seberat-beratnya . Karena jelas blandong2 atau pencuri kayu tersebut bisa mengakibatkan rusaknya hutan dan bisa menimbulkan banjir bandang. Sekarang kita lihat pulau Kalimantan yang dahulu diakui oleh dunia sebagai paru2 dunia , kini merana karena hutannya menjadi botak2 karena tangan2 yang tidak bertanggung jawab .

Coba bayangkan seandainya anda sebagai pelaku dan anda tinggal didaerah terpencil di tepi hutan dan dari penghasilan anda sebagai pekerja tidak mencukupi untuk menutupi kebutuhan anda serta keluarga , dari pendidikan anda yang hanya tingkat rendah hingga anda tidak mengerti masalah masalah hukum serta aturan2nya . Jika suatu saat anda membutuhkan bahan bakar untuk memasak sedangkan bahan bakar yang kita perlukan tidak terbeli , yang ada hanya hutan sekitar tempat tinggal kita yang bisa kita manfaatkan kayunya yang sudah roboh atau mati dengan saingan yang sangat banyak orang yang juga membutuhkan kayu sebagai bahan bakar . Coba bayangkan apa yang akan anda lakukan bila hal tersebut menimpa anda . Dari ilustrasi diatas , kita bisa menilai bagaimana kehidupan saudara2 kita yang tinggal dipelosok yang dekat dengan hutan . Dari kebutuhan2 rutin itulah yang bisa menyeret wong2 cilik tersebut ke meja hijau sebagai tertuduh pencuri kayu yang tidak bisa membela diri karena terbatasnya pendidikan mereka dan butanya mereka tentang hukum .

Suatu perbandingan kasus diatas dengan kasus hukum yang menimpa orang2 terdidik dan berduit serta eks pejabat ataupun yang masih menjabat .
Kasus seorang sopir KPK yang membawa sebutir extacy yang kena hukuman 4 tahun penjara dibandingkan dengan kasus Jaksa Esther yang mengantongi barang bukti sebanyak 300 biji lebih extacy hanya kena satu tahun penjara , menurut Jaksa Penuntut Umum pertimbangannya adalah bahwa Jaksa Esther telah berbakti pada negara selama belasan tahun . Seharusnya bagi orang yang mengerti norma dan aturan hukum serta warga Negara yang baik setingkat Jaksa Esther , apa yang kita perbuat dan kita lakukan harus sesuai dengan norma2 hukum yang berlaku .Apalagi seorang Ibu Jaksa Esther telah mengabdi pada negara selama belasan tahun , tentunya akan lebih mengerti tentang norma2 dan perilaku seorang abdi negara . Nah dari situlah seharusnya jaksa penuntut memberikan ganjaran yang setimpal pada orang seperti Jaksa Esther yang sudah sepatutnya dihukum lebih berat daripada sang sopir KPK karena dia lebih mengenal yang namanya hukum . Namun kembali lagi kita janganlah terperangkap dalam kasus2 diatas karena keduanya jelas2 bersalah , yang satu mengantongi barang yang benar2 dilarang oleh negara untuk diperjual belikan dan yang lainnya menggelapkan barang bukti yang juga barang terlarang . Yang pasti keduanya harus dihukum se-adil2nya agar Indonesia terbebas dari Narkotika dan penyimpangan Hukum yang dilakukan oleh oknum2 penegak hukum .

Keprihatinan pada perlakuan hukum bagi wong2 cilik

= Nenek Minah dihukum karena mengambil 3 bh cacao senilai Rp. 1.500,- yang dihukum selama 3 bulan percobaan . =

= Basar Suyanto ( 40 ) dan Kholil ( 50 ) harus ditahan di Polresta dan penjara selama 2 bulan 10 hari gara2 mengambil sebuah semangka senilai Rp. 20.000,- untuk pelepas dahaga . =

= Wanita memunguti biji kapuk yang terjatuh di areal perkebunan harus dihadapkan kemeja hijau oleh Kepala Perkebunan .=

Mereka semua adalah wong2 cilik yang mencoba suatu keberuntungan dari alam , namun mereka tidak mengerti masalah hukum sehingga tersandung masalah hukum . Inikah potret hukum Indonesia ? Wassalam .

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: